Filosofi Nasi Kuning dan Dharma: Perayaan Kuningan di Jembrana Dihadiri Tokoh Adat dan Masyarakat

JEMBRANA – Pelaksanaan persembahyangan Hari Raya Kuningan Tahun Saka 1947 (2025) di Pura Puseh Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, berlangsung dengan khidmat, tertib, dan kondusif. Keberhasilan ini tidak lepas dari sinergi pengamanan yang solid antara aparat TNI-Polri bersama unsur adat setempat.

Pengamanan terpadu ini dilaksanakan oleh Babinsa Desa Mendoyo Dauh Tukad (Sertu Suwardi) bersama Bhabinkamtibmas (Bripka I Putu Suryadi), didukung penuh oleh Pecalang Desa Adat Mendoyo Dauh Tukad. Fokus pengamanan tidak hanya pada area persembahyangan, tetapi juga mencakup pengaturan lalu lintas di perempatan jalan menuju Pura Puseh dan Pura Dalem. Upaya ini bertujuan memastikan arus kendaraan lancar dan memberikan rasa aman bagi seluruh umat Hindu yang bersembahyang.

Persembahyangan yang dipuput oleh Mangku Puseh I Kade Mas Sudarta ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, menunjukkan kuatnya persatuan di desa tersebut. Turut hadir Jro Bendesa Adat I Ketut Ardika, Jro Mangku Desa Adat, para Kelian Dines dan Kelian Adat se-Desa Mendoyo Dauh Tukad, serta Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Tomas), dan Tokoh Adat (Todat) setempat.
Hari Raya Kuningan adalah momen suci yang dirayakan setiap 210 hari sekali, sepuluh hari setelah Galungan. Secara filosofis, Kuningan melambangkan kemenangan dharma (kebaikan) dan peningkatan spiritual.

Perayaan ini merupakan ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan serta kemakmuran kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang secara khusus ditandai dengan sesajen berisi nasi kuning sebagai simbol kemakmuran.
Berkat kolaborasi yang harmonis antara aparat keamanan dan perangkat adat, seluruh rangkaian kegiatan persembahyangan Hari Raya Kuningan di Pura Puseh Mendoyo Dauh Tukad dapat berjalan dengan lancar, aman, dan penuh kekhidmatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *