Feature
Oleh: Rossa Hakim
Di ujung timur Pulau Flores, di mana laut biru berbatas langit dan perbukitan menyambut matahari lebih awal dari belahan lain Nusantara, prajurit-prajurit TNI hadir bukan dengan senjata, tetapi dengan sekop, cangkul, dan niat tulus membangun. TMMD Ke-124 di Kabupaten Flores Timur (Flotim), yang dipusatkan di Kecamatan Larantuka, bukan sekadar program pembangunan, melainkan bukti nyata bahwa negara hadir hingga ke titik paling timur negeri.
Dansatgas TMMD Letkol Inf M. Nasir Simanjuntak memimpin langsung kegiatan yang menyatukan kekuatan militer dan masyarakat sipil dalam satu semangat: gotong royong demi kemajuan. Dengan medan geografis yang menantang, bertebing, dan berbukit, Larantuka tidak mudah ditaklukkan oleh alat berat semata. Tapi tangan-tangan prajurit TNI, dibantu warga lokal, menjadikan tantangan sebagai pijakan menuju harapan.
Jalan Baru, Akses Masa Depan
Salah satu sasaran utama TMMD adalah membuka jalan baru sepanjang 4.000 meter dengan lebar 8 meter, menghubungkan Kelurahan Sarotari dan Desa Riang Kemi. Jalan ini membelah perbukitan dan semak belukar yang selama puluhan tahun menjadi pembatas antara dua kawasan. Warga biasa menempuh jalan setapak berbatu dengan jarak tempuh hampir dua jam berjalan kaki. Kini, jalan baru membuka harapan—untuk distribusi hasil tani, akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga peluang ekonomi baru.
“Jalan ini bukan sekadar tanah yang diratakan, tapi jembatan menuju masa depan,” ujar seorang warga Sarotari dengan mata berbinar. Ia kini bisa mengantar hasil panennya ke pasar tanpa harus menyewa perahu keliling pulau atau berjalan puluhan kilometer memutar.
Air dari Perut Bumi: Sumur Bor untuk Kehidupan
Di tanah Flores Timur, air bukan sekadar kebutuhan, tapi anugerah. Kekeringan musiman, topografi berbatu, serta kontur tanah kapur menjadikan air bersih sebagai barang langka. TMMD menjawab kebutuhan ini dengan membangun dua titik sumur bor, satu di Kelurahan Sarotari, dan satu lagi di Kelurahan Puken Tobi Wangibao.
Sumur-sumur ini menjadi titik hidup baru bagi warga. Bukan hanya untuk minum, tapi untuk menanam, mencuci, dan menjaga kebersihan. “Kami seperti hidup kembali,” ucap Ibu Magdalena, warga Puken Tobi Wangibao, sambil menggenggam air di telapak tangannya. Suaranya bergetar oleh rasa syukur. Di titik itu, sumur bor menjadi simbol pengharapan dan kemandirian.
RTLH Jadi Rumah Harapan
Di Kelurahan Sarotari, rumah milik Bapak Florianus, seorang buruh harian yang tinggal bersama istri dan tiga anaknya, menjadi bagian dari program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Sebelumnya, dinding rumah dari anyaman bambu sudah lapuk, atap bocor, dan tidak memiliki sanitasi layak.
Kini, rumah itu berdiri kokoh. Tidak megah, tapi layak dan sehat. Dinding batako, atap seng baru, dan lantai semen memberi rasa aman. Anak-anak Florianus kini bisa belajar tanpa khawatir kebocoran hujan atau gigitan nyamuk. TMMD telah menghadirkan martabat baru bagi keluarga ini—dan banyak keluarga lainnya yang nasibnya serupa.
Apresiasi Pemda: TNI dan Rakyat Menyatu
Bupati Flores Timur, Ir. Antonius Doni Dihen, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan TMMD yang digelar Kodim 1624/Flores Timur. Dalam kunjungannya ke lokasi TMMD, ia menyatakan, “Apa yang dilakukan TNI hari ini bukan hanya membangun jalan atau rumah. Mereka membangun kepercayaan, semangat, dan harapan masyarakat kami. Flores Timur sangat berterima kasih.”
TMMD hadir sebagai bentuk nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Dari perencanaan hingga pelaksanaan, warga dilibatkan aktif. Gotong royong menjadi napas kegiatan. Ibu-ibu PKK memasak bagi para prajurit, pemuda desa ikut mengangkut material, tokoh adat memberikan restu spiritual lewat upacara adat sebelum pembangunan dimulai.
Geografis Menantang, Semangat Tak Pernah Padam
Flores Timur bukan wilayah yang mudah dijangkau. Gugusan bukit, jalan terjal, dan curah hujan tinggi menjadi tantangan. Tapi medan yang sulit justru membentuk solidaritas. TNI tidak menyerah. Mereka tidur di posko sederhana, makan bersama warga, dan bekerja dari pagi hingga sore dengan semangat yang tak pernah surut.
Bagi mereka, TMMD bukan pekerjaan. Ia adalah panggilan. Dan bagi masyarakat, kehadiran TNI bukan sekadar program, tapi tanda bahwa mereka tidak sendiri.
Penutup: Dari Sarotari ke Riang Kemi, Dari Rakyat untuk Rakyat
TMMD di Larantuka adalah bukti bahwa pembangunan tidak selalu harus mewah dan monumental. Ia bisa hadir dalam bentuk jalan tanah yang rata, rumah sederhana yang layak, dan sumur yang jernih. Ia hidup dalam kebersamaan, tumbuh dari semangat gotong royong, dan berakar pada nilai luhur masyarakat.
Dari Sarotari hingga Riang Kemi, dari sumur di Wangibao hingga rumah Bapak Florianus, tangan-tangan prajurit telah meninggalkan jejak: bukan hanya fisik, tapi juga jejak kasih, hormat, dan pengabdian.
Di bumi Flores Timur yang terik dan penuh tantangan, TMMD menyala sebagai lentera perubahan. Dan kisah ini akan terus hidup, diceritakan dari generasi ke generasi—bahwa di suatu masa, prajurit datang dan membangun, bukan karena mereka harus, tapi karena mereka mau.