Buleleng — Semangat pelestarian bahasa dan budaya daerah kembali menggema dalam perayaan Bulan Bahasa Bali VIII Warsa 2026 yang digelar di depan Pura Segara Celuk Agung, Banjar Dinas Munduk, Desa Anturan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Sabtu (21/2/2026) pukul 07.30 Wita.
Babinsa Desa Anturan, Kopka Wiful, bersama Bhabinkamtibmas Desa Anturan, Aipda Gede Agus Ariadi, S.H., menghadiri langsung kegiatan yang diselenggarakan oleh Desa Adat Anturan bersinergi dengan Pemerintah Desa Anturan tersebut. Kehadiran aparat kewilayahan ini merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian adat, budaya, serta bahasa Bali sebagai identitas masyarakat Bali.
Kegiatan Bulan Bahasa Bali VIII Warsa 2026 mengacu pada Surat Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali, dengan mengusung tema “Atma Kerthi – Udiana Purnaning Jiwa”, yang bermakna pemuliaan jiwa melalui pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Jro Mangku Kahyangan Tiga, perwakilan MDA Kecamatan Buleleng, Camat Buleleng yang diwakili Kasi Sosial dan Budaya, Perbekel Desa Anturan, Kelian Desa Adat Anturan, Ketua Kertha Desa, Ketua Sabha Desa, para Kepala Sekolah SDN 1, 2, dan 3 Anturan, para Kelian Banjar Dinas se-Desa Anturan, peserta lomba, dewan juri (panureksa), serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas Desa Anturan.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, doa bersama, sambutan dari Kelian Desa Adat dan Perbekel Desa Anturan, dilanjutkan dengan pelaksanaan lomba serta penyerahan hadiah kepada para pemenang, dan ditutup dengan penutupan resmi kegiatan.
Adapun lomba yang digelar dalam rangka Bulan Bahasa Bali ini meliputi lomba Nyurat Aksara Bali, Pidarta Bahasa Bali, dan Mesatua Bali. Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan generasi muda sekaligus upaya konkret menjaga eksistensi bahasa Bali di tengah perkembangan zaman.
Babinsa Desa Anturan menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat positif dalam menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini, sekaligus mempererat sinergi antara aparat kewilayahan, pemerintah desa, dan desa adat.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar.
No comments yet.